Sesal Kemudian Apa Betul Tak Ada Guna?

Akhir pekan lalu saya menonton The Wild Robot. Sudah cukup lama sebenarnya saya ingin menonton film ini karena pilihan lainnya tidak ada yang sesuai selera. Home Sweet Loan sudah pernah saya tonton. Venom 3? Malas lah. Film horor? Bah!

Waktunya pas, tidak terlalu sore dan setelah selesai waktu untuk sholat maghrib masih sangat lapang. Penonton saat itu juga cuma dua belas orang dewasa. Kami semua sangat menikmati filmnya. Suara tawa berkali-kali terdengar. Beberapa gerakan menghapus air mata juga ada. Ya, filmnya ternyata melebihi ekspektasi saya.

Roz - Brightbill - Fink

Jalan ceritanya bisa dibilang klise. Adegan komikalnya juga biasa ditemui di film-film animasi lainnya. Klise, tapi berhasil meninggalkan kesan pada saya. Mungkin beberapa bulan lagi saya akan melupakan cerita persis film ini, tapi saya akan mengingat perasaan yang ditimbulkan oleh dinamika hubungan Roz, Brightbill dan Fink. Sama seperti saya masih mengingat rasa haru dan pedih akibat The Good Dinosaur beberapa tahun lalu.

Ya, saya projecting perasaan melalui film ini. Rasa sesal tidak mengungkapkan rasa sayang lebih sering kepada mereka yang sudah pergi. Perasaan terasing karena sulit berbaur dengan lingkungan. Keinginan untuk tidak patah arang dan bisa memiliki alasan untuk terus berusaha. 

Klise kan?

Tapi dialami oleh setiap orang. Makanya disebut klise.

Kalau dipikir-pikir lagi.. siapa yang tak punya rasa sesal? Keputusan yang sudah dipertimbangkan matang-matang pun berpotensi disesali jika ada kejadian yang memantiknya. Dijalani saja ya.. berusaha saja sebaik-baiknya selama hidup. Toh tidak ada yang kekal, baik bahagia maupun sedih. 

Komentar

Postingan Populer