Heavy Bag

Awal minggu yang sibuk tapi masih sempat kabur makan siang. Alhamdulillah. Siang itu saya kirim pesan ke teman, "Culik aku dong. Suntuk!"
"Ayo jam 12 kita cabs!" katanya.
Nah, jam maksi ini cukup rawan karena ada saja yang minta konfirmasi terkait pekerjaan sehingga seringnya saya harus tetap buka laptop untuk cek data.
"Aku bawa laptop aja?" tanyaku.
"Bawa aja. Biar kamu sambil kerja sekalian nanti." jawab temanku.
"Lah kamu ngapain?" 
"Santai lah. Kok kerja terus, dari pagi aku udah sibuk."
Kampret ya anda ~~
.
Jadi ya gitu, saya pergi keluar menenteng dua tas; satu tote bag dan satu tas laptop plus berkas. Sementara si teman cuma nyangklong tas kecil imut-imut. Handbag mungil.
"Apa isinya tuh dosa aja ga muat di dalemnya!!" omel saya menjurus iri pas liat tas si teman. Dia cuma cengengesan.
Kemudian saya bilang, "Aku tu ga pernah bisa bawa tas kecil kalau keluar. Minimal bawa payung, charger handphone, buku atau e-reader, kadang botol minum. Padahal yaa.. sempet baca juga ngga."
Si teman cuma senyum kecil.
.
Jam maksi berlalu dengan menyenangkan. Makan enak, sempet liat laut, ketawa-ketiwi, meski akhirnya buru-buru balik ke kantor karena dipanggil rapat yang dengan seenaknya kami berencana abaikan. Ga bisa ternyata. Hehe.
Ada untungnya sih saya langsung angkut laptop dan berkas kerjaan karena akhirnya bisa nyambi kerja sambil dengerin adu pendapat di rapat tadi. Meski berat, dua tas tersebut jadi jaminan saya menghadapi pekerjaan. Belakangan kemana-mana, bahkan di akhir pekan pun masih ditemani laptop dan berkas kerja.
Bukan hal yang baik sebenarnya. Makanya blog ini ada. Diawali kegundahan karena suntuk bekerja. Kan sarana vent out tipis-tipis yaaa~~
Kali ini bukan menyorot beban pekerjaan, melainkan tas besar yang selalu saya bawa kemana-mana.
Jadi ingat salah satu episode How I Met Your Mother saat Ted kencan dengan cewek yang punya "luggage" aneh. Ujungnya Ted sadar bahwa dia pun punya "luggage". Tiap orang punya "luggage" yang mereka bawa kemana-mana.
Nah ini saya secara sadar membawa printilan yang sebenarnya tidak setiap saat dibutuhkan. Mereka ini jadi jaminan penenang perasaan saja. Saya tau mereka ada di dekat saya, siap jika dibutuhkan.
Teman saya yang lain memakai istilah taken for granted. Entah cocok atau tidak.. tapi saya pikir ada benarnya. Minimal ada orang(-orang), bisa keluarga atau pun bukan, yang jadi safety zone. Saya tau mereka ada, mau menolong jika diminta bantuan tapi sehari-harinya sering diabaikan.
Yaaaahhhh... jadi berat nih jadi makin mellow saya mah :(
Udah aaahhh.. nanti saya mau berusaha memperbaiki hubungan yang kayaknya sempat tegang. Ini tulisan malah larinya ke sana padahal awalnya cuma mau membahas kebiasan saya yang bawa banyak barang.
.
Kesimpulannya, ya udah sih kalo bebanmu berat baik disengaja atau pun tidak. Jika sanggup lanjutkan. Jika tidak, istirahat. Masih tidak sanggup, sort out your mess. Tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk masalah.
Okesip.

Komentar

  1. ini sebenernya akun punya siapa sih, saya malah jd pnasaran, cara bertuturnya serasa familiar #lah :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ebuset, saya tidak bisa menduga2 jikalau demikian, kecuali dugaan sementara.. pusing saya :))

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer