Sepatu yang Nyaman
Saya pernah menulis topik sejenis di blog yang lama. Tentang keusangan yang hampir selalu berbanding lurus dengan kenyamanan. Memakai bahasa metafora yang menurut saya sederhana, gampang dicerna sekaligus luar biasa. Jumawa ya? Iya. Hehe.
Romantisasi benda-benda sekitar yang dikaitkan dengan permasalahan hidup saat itu. Pandai-pandai merangkai kata saja dan voila jadilah tulisan curhatan ala-ala pujangga. Idih memnag, yang penting berima.
Udah ah. Haha. Saya cerita saja ya?
Saat tulisan ini dibuat adalah hari Minggu yang rasanya akan cukup menyenangkan apabila dibandingkan dengan hari-hari Minggu di bulan sebelumnya. Hujan sejak dini hari sampai jam sembilan pagi membuat cuaca cukup sejuk yang membuat saya memutuskan untuk keluar berjalan kaki mengitari area favorit. Jalur yang saya lewati memiliki trotoar yang sangat memadai, ada pohon pelindungnya, juga kendaraan yang belum terlalu banyak karena yah... Minggu pagi.
Awalnya saya hanya mau mampir sarapan lalu membeli camilan favorit di kedai sebelahnya. Namum cuaca yang menyenangkan ini membuat saya memutuskan untuk memperpanjang langkah. Ayolah, sekalian men-8000-langkah-kan hari ini.
Sayangnya, saya tidak memperhitungkan alas kaki yang saya gunakan. Akibat sok tau saat belanja daring, saya sempat dua kali salah membeli ukuran alas kaki. Tergoda diskon Black Friday tahun lalu, saya membeli dua sandal-sepatu dengan merek dan warna berbeda. Satunya kebesaran sedangkan yang lain kekecilan setengah nomor. Setimbang ya? Haha.
Yang kekecilan masih rutin saya pakai untuk keluar ke tempat-tempat yang tidak mengharuskan saya berjalan terlalu banyak. Kasut yang kebesaran malah jarang digunakan karena.. seperti barang pinjaman! Padahal warnanya pink gonjreng menawan. Hhhh...
Hari ini saya menggunakan kasut hitam yang sedikit kekecilan. Bisa ditebak, kaki saya mulai sakit setelah berjalan beberapa lama. Sepanjang perjalanan saya merasa mau berhenti saja dan memesan kendaraan online atau menyetop taksi yang lewat. Namun beberapa ratus meter di depan ada warung kopi langganan. Ya udah sih.. mampir aja istirahat sebentar. Lalu perjalanan beberapa ratus meter terasa apa ya.. bearable? Rasa sakit mulai dianggap biasa, saya memaksakan diri untuk lebih memperhatikan lingkunga sekitar. Ada banyak hal menarik yang tertangkap mata malah.
Tidak, saya tidak mau meromantisasi rasa sakit. Bila tidak tertahankan, mintalah pertolongan. Cari penyelesaian. Kalau masih sanggup ya silahkan saja mau dipeluk atau diabaikan itu rasa sakit. No pain no gain they said.
Kesimpulannya apa? Bahwa belilah kasut dengan ukuran yang sesuai. Jangan malas riset kalau belanja daring. But shit happens sih. Kadang kala yang didapat tidak sesuai ekspektasi meski matamu sudah jereng membaca testimoni. Jadikan pelajaran saja. Jangan patah arang tetap semangat belanja ;)


Komentar
Posting Komentar