Ada Bahagia di Sudut Kota

Bahagia terlalu optimis sepertinya. Lebih tepatnya mungkin kesenangan kecil, yang jika disyukuri mungkin melegakan hati yang sepertinya masih tergoda untuk berduka.

Hehe.

Sabtu malam selepas jam kerja saya sempat mampir ke toko ponsel untuk membeli pelindung gawai. Keadaan di toko tersebut lengang, tidak seperti jalanan yang penuh orang-orang yang sepertinya sangat ingin keluar dari ruangan. Maklum, cuaca kota ini masih sangat panas.

Setengah jam di sana, urusan pasang-memasang dan pembayaran selesai. Saya pun segera memesan kendaraan online untuk pulang. Ternyata bapak driver-nya meminta untuk di-cancel saja. Terlanjur kecewa, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Mumpung sudah malam, tidak terik. Jarak tempuhnya lumayan juga, sekitar 2 km. Dibanding jaraknya saya lebih tidak nyaman terhadap catcalling bapak-bapak dan abang-abang serta adik-adik iseng.

Benar saja, ada satu kali tindakan catcallign saya terima sepanjang jalan. Alhamdulillah cuma satu ya?

Oh, saya tidak ingin membahas tindakan menyebalkan tersebut. Karena akan mengotori niat awal untuk membicarakan topik yang membuat saya tersenyum saat itu.

Kejutan menyenangkan. Unexpected happiness. 

Sekadar iseng yang membawa saya melangkahkan kaki memasuki satu toko roti kecil yang juga menjual kopi. Tempatnya tidak terlalu menggugah. Dari luar keliatan seperti toko roti biasa. Hanya ada empat meja bulat kecil, satu speaker besar yang menyuarakan lagu-lagu dari Spotify (yang saya tebak milik barista-nya). Lagu-lagu ala anak senja. Ada Tulus, lalu ada deretan penyanyi lain yang tidak saya ketahui namanya.

Dua orang menyambut saya dengan senyuman lebar. "Halo!", sapa saya. 

Sekilas saya perhatikan daftar menu kopi di samping mesin kasir. 

"Kopi susu-nya bisa panas?", tanya saya.

"Bisa kak!" jawab mereka dengan bersemangat.

Hmmm.. lebih baik pesan Cappuccino saja. Menurut beberapa orang teman, kalau Cappuccino-nya sudah enak berarti layak untuk dikunjungi lagi.

"Cappuccino panasnya saja ya satu," kata saya sembari melirik deretan roti di etalase kaca.

"Tambah roti red bean-nya juga ya. Bisa langsung bayar?" 

Saya memang lebih suka menyiapkan plan B kalo soal makanan. Kalau ga enak minimal bisa ada yang lain untuk dicemil. Hehe.

Kurang lebih 15 menit kemudian Cappuccino dan roti red bean saya datang. Tampilan kopinya sih biasa. Cenderung heh ini mah saya bisa buat lah pake frother ala-ala. Tapi baunya enak. Saya cicipi, dan ternyata ... enak. 



Tidak luar biasa, tapi saya pernah minum yang lebih awur-awuran rasanya dengan harga hampir dua kali lipat. Cappuccino seharga dua puluh ribu ternyata bisa membuat saya tersenyum malam itu karena menjadi kejutan kecil yang menyenangkan.

Saya tidak tau apa akan kembali lagi ke sana.

Saya tidak tau apa toko tersebut masih akan ada di saat saya memutuskan untuk kembali ke sana.

Kenangan tentang kopi enak di Sabtu malam bulan Mei yang akan saya ingat jika melewati jalan tersebut.

Komentar

Postingan Populer