Sulit Fokus dan Perkara Kehilangan

Level konsentrasiku semakin menyurut. Untuk membaca lebih dari setengah jam terasa sulit sekarang. Banyak yang mengatakan bahwa era sosial media yang cenderung menyebabkan kemampuan untuk fokus menjadi jauh menurun. Ada benarnya bagiku. Semenjak sering scroll tiktok, instagram reels, skip skip insta story memang membuatku jadi kurang fokus dalam membaca. Apalagi untuk menulis.
Karena lebih menarik dan gampang "dicerna". Padahal yang dicerna tersebut belum tentu ku butuhkan.

Kemampuan untuk menyelesaikan menonton series lebih dari 20 menit juga cukup jauh menurun. Awalnya ku pikir perkara belum ada cerita yang bisa menarik minat saja. Aku pun lebih cenderung menonton ulang series komedi berdurasi 20 menit yang sudah ditonton berulang-ulang karena lebih familiar dengan jalan ceritanya. Tapi ketika serial yang ku (pikir ku)nantikan tayang, aku sulit untuk menyelesaikannya. 

Apa ini jadi masalah?
Hmm.. tidak juga sebenarnya. Toh bukan hal yang krusial karena tontonan hanya kebutuhan tersier. Yang jadi masalah adalah kemampuan untuk menyelesaikan bacaan. Sudah bertahun-tahun aku gagal mencapai target di Goodreads. Tahun kemarin saja hanya enam buku yang bisa ku tamatkan. Tetap saja aku bahagia bisa bertemu enam buku tersebut. Terutama buku terakhir yang ku baca di 2023 yaitu Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring yang ditulis oleh dr. Andreas Kurniawan, seorang Psikiater yang suka bercanda (his word, not mine hehe).

Buku ini tak sengaja ku beli saat liburan akhir tahun. Iseng mampir ke pameran buku di depan kafe di mall di kotaku, lalu ku baca di kafe tersebut. Untung kafe itu sedang sepi karena aku sempat beberapa kali menitikkan air mata saat membacanya. Adikku pun jadi tertarik untuk membacanya saat kirimkan foto salah satu halamannya.


"Jika matahari tidak memberi kehangatan, semoga kamu mendapat kehangatandari sumber lain. Jika hatimu kosong, semoga itu segera terisi..."


Aku tau aku masih berduka. Rasa sedihnya datang dan pergi dengan intensitas berbeda. Kadang aku merasakan penyesalan menghantam begitu keras sampai terasa sulit untuk melanjutkan hari. Di lain waktu aku merasa bisa berkawan dengan rasa pahit yang timbul karena memori yang timbul karena insiden-insiden kecil.

Tidak apa-apa.
Kalau sedang sedih ya sedih saja.
Setelah sedihnya lewat, lanjut tidak sedih.
Hehe.

Komentar

Postingan Populer