"how to be happy"

Saking gabutnya, saya ketikkan kalimat di judul ke mesin pencari. Saya memang manusia zaman dulu, masih mengandalkan mesin pencari Google, Bing, atau di browser Safari ketimbang Tiktok. Perbedaan yagn cukup mencolok dengan rekan kerja berusia lebih muda yang sudah mengandalkan aplikasi Tiktok unutk mencari tempat-tempat makan hits. Walau ujungnya ya kembali ke situ-situ saja.

How to be happy?

Ada yang memaparkan 27 cara. Ada yang menampilkan video 10 habits of happy people. Ada yang cukup 8 ciri menjadi bahagia.
Saya langsung pusing. Aduh, banyak betul cara dan kategorinya ya... apakah sudah terbukti manjur? 
Belum apa-apa sudah pesimis. Hehehe..

Mengapa saya menanyakan tentang kebahagiaan kepada internet? Padahal kurasi informasi dari sana cukup melelahkan..

Mungkin karena sehari-hari saya menghabiskan lebih dari setengah hidup saya di sana. Saat bekerja masih sempat shit posting di twitter. Sebelum tidur scrolling instagram dulu. Belum lagi tiktok yang suka membuat lupa waktu saat liat live orang jualan.

Screen time saya memang sudah berlebihan. Tapi saya sepertinya belum punya tekad bulat untuk menguranginya. Sama seperti mereka yang memiliki ketergantungan terhadap rokok, cara-satu-satunya untuk menghilangkannya adalah dengan berhenti. 
Ya, tidak perlu deklarasi macam-macam. Berhenti.
Testimoni beberapa orang begitu. 

Entahlah.. kalau dipikir-pikir lagi, saya pernah sangat ketagihan kopi. Saat bulan puasa saya bisa sama sekali tidak minum kopi. Tapi di luar itu, sangat sulit bahkan sekarang saat asam lambung saya kumat-kumatan. 
Kalau ditelusuri lebih lanjut, saya suka, saya ketagihan proses memesan minuman (kopi) lalu duduk di meja sudut tempat ngopi favorit saya. Bisa sambil bekerja, membaca buku, atau malah sambil nge-game. Saya suka gelas (kopi) berisi minuman hangat yang menemani kegiatan saya saat itu. Jika ingin benar-benar berhenti, saya bisa saja mengganti minuman kopi tersebut dengan green tea latte, coklat, atau malah air putih plus makanan ringan saja mengingat dokter saya juga sudah mengingatkan untuk "Kurangi kopi, teh, coklat dulu ya kak.. sedikit boleh tapi sesudah makan ya kak"
Oke deh, dok.

Apakah mengurangi kopi yang dulu jadi sumber kebahagiaan saya menjadi penyebab saya uring-uringan belakangan ini sampai harus mencari cara agar bahagia di internet?
Tidak.
Bahkan bersama kopi juga rasa bahagia dapat sekejap berganti dengan rasa gelisah.

Mungkin saya memang sedang iseng saja.
Anggap saja begitu.



Komentar

  1. Bersyukur banget aku anaknya gampang happy

    seharian di rumah wifian pake hape udah happy hihihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer